Home Kabupaten Purbalingga Ketua MUI Purbalingga: Jadilah Manusia Yang Buruk Dalam Pandangan Sendiri

Ketua MUI Purbalingga: Jadilah Manusia Yang Buruk Dalam Pandangan Sendiri

961
0
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purbalingga KH Roghib Abdurrahman saat memberi tausiah saat kegiatan Khotmil Quran, Istighozah, dan Pengajian di Pendopo Dipokusumo, pada Jumat (29/6) malam.

PurbalinggaNews – Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyelenggarakan serangkaian kegiatan Khotmil Quran, Istighozah, dan Pengajian pada Jumat (29/6) malam di Pendopo Dipokusumo. Adapun Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Purbalingga KH Roghib Abdurrahman dalam memberi tausiah acara tersebut menyampaikan bahwa manusia diciptakan oleh Allah Subhanahuwataala dikaruniai 7 watak bawaan sejak lahir.

Salah satu dari 7 watak tersebut adalah Asy Syahwat yaitu rasa keinginan. Manusia tentu berhak punya inginan, akan tetapi keinginan itu seharusnya mengukur ada pada diri kita. Roghib menyampaikan bahwa Ali bin Abi Thalib Rodiallohuanhu pernah berpesan untuk jadilah diri kita untuk menjadi orang yang terbaik di hadapan Allah.

“Artinya kita harus punya keinginan (Asy Syahwat) menjadi orang yang baik menurut Allah. Jadilah dirimu menjadi orang paling jelek menurut diri sendiri, agar kita tidak sombong dan tidak merasa menjadi orang yang paling baik. Jadilah apa adanya di hadapan orang lain,” katanya.

BACA JUGA   Admin Utama Kepegawaian OPD dilatih E-Presensi Lanjutan

Watak lain yang ada pada diri manusia adalah keinginan untuk bersama, ingin hidup berdampingan dengan damai. Hal itu bisa diperoleh jika hati kita buka bersama untuk saling memaafkan dan saling memberi.

“Kalau akhir akhir ini kita masih ramai silaturrahmi halal bi halal, maka itulah sebenarnya jati diri manusia. Antara puasa dengan halal bi halal korelasinya sangat kuat. Tujuan puasa adalah membentuk manusia yang bertaqwa. Sedangkan salah satu indikator takqwa adalah mebuka hati mau memafakan sesama,” katanya.

Manusia juga memiliki watak emosional, meski demikian manusia juga telah dibekali akal, akhlak kemampuan untuk berfikir analisa dan mengambil keputusan. “Sebagai insan yang bertaqwa seharusnya mampu mengendalikan emosi mampu memenej kapan kita boleh emosi dan kapan tidak boleh,” katanya.

BACA JUGA   Kerjasama Dengan Rainbow Motobuilder, Bupati Tantang Para Pelaku IKM Logam Ciptakan Motor Listrik

Watak selanjutnya yakni, rasa mencintai, kemudian rasa takut. Sekuat apapun manusia, selagi masih disebut manusia pasti punya rasa takut. Dalam konteks Islam, kata Roghib ketakutan kita seharusnya hanya ditujukan kepada Allah.

“Manusia dikaruniai watak pelupa. Kalau kita lupa itu masih manusiawi, yang penting kita jangan sampai lupa kepada Allah Subhanahuwataala,” katanya.

Kemudian, watak yang terakhir adalah ragu. Jika dihadapkan persoalan yang membingungkan, umumnya manusia akan merasa ragu untuk memilih keputusan. Roghib berpesan sebagai orang Islam ketika menghadapi seperti demikian maka bergantunglah kepada Allah Subhanahuwataala salah satunya yaitu dengan cara shalat istikharah. (Gn/Humas)