Home Kabupaten Purbalingga KIM Pakkis Nusantara Selenggarakan Simposium Keluarga

KIM Pakkis Nusantara Selenggarakan Simposium Keluarga

452
0
Pelaksanaan Simposuin Keluarga oleh KIM Pakkis Nusantara, Desa Tidu Kecamatan Bukateja

 

PurbalinggaNews, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pakkis Nusantara Desa Tidu Kecamatan Bukateja menyelenggarakan simposium keluarga. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan literasi kepada masyarakat terkait dampak baik dan buruknya pemakaian smartphone dan penanggulangan hoax di masyarakat.

Ketua KIM Pakkis Nusantara, Kistam mengatakan pelaksanaan simposium diharapkan dapat memberikan informasi yang cerdas, dan dapat mengambil pelajaran yang positif. Dan lebih lanjut bisa berdampak pada peningkatan ekonomi (income) bagi masyarakat terkait dengan pemanfaatan smartphone untuk usaha-usahan online.

” Kita juga sangat berterimakasih kepada Dinas Kominfo yang telah mendukung kegiatan simposium tersebut,” katanya disela-sela kegiatan simposium di Aula Yayasan Hubbul Qur’an Desa Tidu Kecamatan Bukateja, Sabtu (5/5). Kegiatan diikuti oleh 45 orang yang terdiri dari  santriwan-santriwati dan  wali santri.

Kasi Komunikasi Publik pada Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga, Sapto Suhardiyo mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan KIM Pakkis Nusantara Desa Tidu. KIM merupakan mitra Dinkominfo dalam penyebaran informasi dari pemerintah ke masyarakat melalui pertemuan atau tatap muka. Dengan penyebaran tatap muka tersebut diharapkan  dapat mengurangi disinformasi yang sekarang marak terjadi di masyarakat.

” Maraknya penggunaan smartphone mempunyai dampak positif dan dampak buruk bagi penggunanya,” kata Sapto yang juga sebagai pemberi materi pada simposium keluarga tersebut.

Penggunaan Smartphone pada anak lanjut Sapto harus mendapatkan pengawasan ketat dari keluarga terutama orangtuanya. Penggunaan Smartphone yang terlalu lama akan berpengaruh pada kesehatan anak, prilaku anak, serta menimbulkan kecanduan. Kemudian juga interaksi sosial anak cenderung pasif dan lebih mementingkan dunia maya daripada dunia nyata.

“Maraknya bullying tindak kekerasan pada anak dan pelakunya adalah anak-anak salah satu dampak pesatnya perkembangan smartphone. Lewat medsos anak-anak kerap meniru tindakan diluar nalarnya,” tambahnya.

Olehkarena itu, tambah Sapto sebaiknya orang tua jangan memberikan smartphone kepada anak dibawah usia 12 tahun. Karena diusia tersebut otak anak-anak sedang tumbuh dan berkembang, jangan sampai diusia tersebut terpapar smartphone, yang berakibat pada anak menjadi bodoh, kurang percaya diri, pendengaran dan penglihatannya menjadi rusak akibat radiasi sinar smartphone.

Sedangkan Kasi Diseminasi Informasi pada Dinkominfo, Aris Setyamami mengatakan dampak penggunaan smartphone juga banyaknya berita hoax. Maraknya hoax dan ujar kebencian yang melanda di media sosial (medsos) menjadi perhatian serius bagi Dinkominfo untuk mengedukasi masyarakat agar selalu waspada terhadap berita hoax. Jangan share dulu sebuah berita sebelum membacanya, harus melihat keakuratan berita dan sumbernya jelas berupa fakta dan bukan opini semata

” Data dari dewan pers ada 4000 situs berita namun baru 300 situs berita yang sudah terdaftar, sehingga ada kemungkinan berita-berita yang beredar di dunia maya banyak mengandung hoax,” katanya.

Untuk itu lanjut Mami masyarakat harus selalu waspada terhadap berita-berita yang beredar di dunia maya. Jangan dulu percaya tapi lihat dulu kebenarannya, jangan share informasi sebelum disaring. (PI-2)