Home Kabupaten Purbalingga Menyandang Disabilitas, Saeni Jadi Desainer Gebyar Batik Purbalingga

Menyandang Disabilitas, Saeni Jadi Desainer Gebyar Batik Purbalingga

1550
0
Saeni bersama para peserta Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018 yang mengenakan busana rancangan miliknya dan pembatik asal Desa Selabaya di depan Museum Prof. Dr. Soegarda Poerbakawatja, Sabtu (12/5)

PurbalinggaNews – Keterbatasan yang dimiliki ternyata bukanlah penghalang bagi Saeni untuk tetap berkarya. Saeni merupakan warga Desa Penaruban, Kecamatan Kemangkon yang menyandang disabilitas sejak lahir, namun hal tersebut justru dijadikan Saeni untuk tetap berkarya.

Saeni, penyandang tuna daksa tersebut mulai terjun di bidang fashion sejak usianya menginjak remaja. Dengan keterbatasan yang dimiliki pada tangan kirinya, Saeni dengan penuh ketelatenan membuat pola pada kain hingga menjadi satu buah baju.

Perempuan kelahiran 1982 ini mengaku bangga dapat menghasilkan berbagai busana hasil kerja kerasnya sendiri. Berkat usahanya tersebut dan hasil karyanya yang sudah dikenal oleh masyarakat, Saeni dipercaya untuk menjadi salah satu desainer pada Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018 yang bertempat di Depan Museum Prof. Dr. Soegarda Poeebakawatja.

BACA JUGA   Koperasi LKMA Tri Mulya Tani Juara 3 Tingkat Jateng

“Saya tadi menampilkan desain saya dengan mengambil tema Famous In The World,” kata Saeni saat dijumpai di halaman Museum Prof. Dr. Soegarda Poerbakawatja, Sabtu (12/5).

Menurut Saeni, tema yang diambilnya pada Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018 dimaksudkan untuk memperkenalkan batik Purbalingga agar dapat dikenal di seluruh dunia. Jadi, tambahnya batik Purbalingga tidak hanya dikenal oleh masyarakat di Purbalingga saja karena batik Purbalingga dapat dijadikan pakaian bergaya seperti di luar negeri.

“Saya membuat batik goa lawa ini menjadi pakaian dengan terinspirasi dari Korea, Jepang, India dan Cina,” ujarnya.

Dalam balutan busana batik pesona goa lawa, Saeni membuat pakaian muslim dan gaya casual yang bernuansa Asia. Desain milik Saeni menampilkan baju muslim bergaya Korea dan baju casual bergaya Jepang dengan model baju seperti Kimono.

BACA JUGA   Niagara Mini Bernama Sumba

“Rasanya pas sekali kalau dibuat baju muslim bergaya Korea, terus untuk busana prianya saya buat casual seperti di Jepang,” tutur Saeni.

Pada Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018, Saeni bermitra dengan sentra batik Selabaya “Batik Hatocha Art”. Ia bekerjasama dengan Martina, pembatik Goa Lawa asal Desa Selabaya yang menyiapkan bahan untuk dijadikan pakaian pada Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018.

Dalam kurun waktu satu bulan, dengan keterbatasan yang dimiliki, Saeni berhasil membuat lima desain batik dengan motif Goa Lawa seperti yang diintruksikan oleh pihak panitia Gebyar Batik Purbalingga Tahun 2018. Ke lima desain tersebut dibuatnya seorang diri dari mulai menggambar pola hingga proses menjahit.

BACA JUGA   Kliping Media Tanggal 9 Januari 2018

Saeni berharap batik pesona goa lawa nantinya dapat terus berkiprah hingga membawa nama Purbalingga baik di kancah nasional maupun internasional. Sebagai seorang desainer, Saeni mengungkapkan batik pesona goa lawa dapat dijadikan bermacam-macam pakaian yang dapat digunakan di berbagai acara.

“Kita sebagai warga Purbalingga harus bangga punya batik khas (Goa Lawa, Red) karena bisa dijadikan berbagai macam pakaian dari mulai yang resmi, kantoran bahkan sampai pakaian  kasual,” ungkap Saeni. (PI-7)