Home Kabupaten Purbalingga PGRI Purbalingga Diibaratkan Singa Mengaum

PGRI Purbalingga Diibaratkan Singa Mengaum

892
0
Konferensi Kerja tahun ke-4 (empat) Masa Bakti Pengurus XXI di Aula Gedung PGRI Purbalingga, Kamis (29/3).

PurbalinggaNews – Sebagai tanggung jawab atas konstitusi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), pengurus PGRI Kabupaten Purbalingga menyelenggarakan Konferensi Kerja tahun ke-4 (empat) Masa Bakti Pengurus XXI di Aula Gedung PGRI Purbalingga, Kamis (29/3). Ketua PGRI Purbalingga, Sardjono mengatakan, PGRI Purbalingga akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) membangun Purbalingga dari sisi pendidikan dengan ikut berkontribusi menggenjot angka lama sekolah warga Purbalingga.

“PGRI Purbalingga sering diajak membahas hal strategis dengan Pemkab. Salah satunya adalah peningkatan IPM dengan cara meningkatkan angka lama sekolah. Itu sebagai tanda PGRI khususnya di Purbalingga sangatlah dibutuhkan,” kata Sardjono.

Sardjono memaparkan, jumlah anggota PGRI yang banyak membuat kekuatan PGRI sangat diperhitungkan. Dia menambahkan, anggota PGRI jangan hanya bekerja atas dorongan kepentingan pribadi semata. Anggota PGRI didorong agar bisa berperan aktif menerjemahkan program pemerintah serta mampu menjadi solusi atas tingginya angka putus sekolah.

“PGRI di Purbalingga harus mampu bergerak progresif serta mampu menjadi solusi atas permasalahan yang ada. PGRI di Purbalingga telah terbukti banyak berkontribusi hadir memberi solusi atas problematika yang ada,” paparnya.

Dalam acara tersebut, hadir juga ketua pengurus PGRI Jawa Tengah, Widadi. Widadi menggambarkan PGRI menjadi tiga tingkatan yaitu seperti singa yang mengaum, singa lapar dan singa mengembik. Dia menjelaskan, golongan singa mengaum berarti PGRI di suatu daerah mampu merencanakan sesuatu dengan baik dan mengimplementasikannya dengan sempurna. Untuk golongan yang kedua, singa lapar, Widadi menuturkan, PGRI di suatu daerah tidak bisa merencanakan suatu agenda namun melahirkan implementasi yang luar biasa. Untuk kategori yang terakhir sangat tidak dianjurkan karena PGRI digambarkan sebagai organisasi yang tidak bisa merencanakan dan mengimplementasikan sebuah agenda.

“Purbalingga saya golongkan sebagai singa mengaum. PGRI di Purbalingga khususnya dan di Jawa Tengah adalah organisasi yang mampu merencanakan dan mengimplementasikan,” tutur Widadi.

Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum, Tri Gunawan Setyadi yang mewakili Bupati mengapresiasi PGRI Purbalingga yang telah banyak ikut berkontribusi serta ikut andil dalam pembangunan. Dia menyampaikan terima kasih kepada PGRI Purbalingga yang telah membangun SMK PGRI di Pengadegan sebagai upaya menolong anak Purbalingga yang mengalami kesulitan biaya pendidikan.

“Bapak Bupati mengucapakan banyak terima kasih kepada para anggota PGRI Purbalingga yang ikut sengkuyung membangun Purbalingga. Sebagai contoh PGRI ikut andil merehab rumah tidak layak huni (RTLH) sebanyak 52 rumah,” ujar lelaki yang akrab disapa Tri Gun tersebut.

Konferensi kerja itu juga menghadirkan Ketua Umum PB PGRI pusat, Unifah Rosyidi. Unifah berpandangan, Pemkab Purbalingga sangat berperan besar dalam kelangsungan guru. Dia menilai, pembagian SK kepada 1645 Guru Tidak Tetap (GTT) merupakan keberanian dari segi positif yang patut diapresiasi. Menurutnya, Pemkab Purbalingga mampu beragumentasi dengan menyebut dasar hukum serta dalil sehingga SKK-GTT bisa diterbitkan.

Unifah juga memotivasi para guru agar tidak berkecil hati dengan semakin banyaknya guru yang terjerat kasus baik yang terkesan kriminalisasi maupun memang tindak criminal murni. Dirinya bersama pengurus PGRI lain berjuang di Mahkamah Konstitusi agar guru yang terjerat masalah hukum atau kode etik guru haruslah ditindak di dewan guru terlebih dahulu.