Home Kabupaten Purbalingga Pramuka Bentengi Dampak Negatif Hedonis Generasi Muda

Pramuka Bentengi Dampak Negatif Hedonis Generasi Muda

581
0
????????????????????????????????????

PurbalinggaNews – Guna mendukung kegiatan hari Pramuka ke-57, Kwartir Cabang (Kwarcab) Purbalingga menyelenggarakan Saresehan di sela-sela Penyemayaman Estafet Tunas Kelapa (ETK) Kwarda Jawa Tengah. Pada saresehan tersebut, mengangkat tema “Pramuka Perekat NKRI” bahwa gerakan pramuka tetap konsisten dan fokus untuk mendidik karakter kaum muda Indonesia untuk bersatu menjaga persatuan dan kesatuan demi utuhnya NKRI.

Ketua Kwarcab Purbalingga Trisnanto Srihutomo BE SPd mengatakan melalui saresehan ini diharapkan dapat memgembangkan aktifitas dan kualitas Gerakan Pramuka dalam mencapai tujuan Gerakan Pramuka.

“Melalui ETK juga diharapkan dapat memantapkan masyarakat dan orang tua agar tidak ragu lagi mempercayai putra putrinya untuk mengikuti pembinaan karakter dalam Gerakan Pramuka,” katanya dalam acara yang diselenggarakan di Sanggar Bhakti Kwarcab Purbalingga, Kamis (6/9) malam ini.

Ia menuturkan, Gerakan Pramuka harus turut andil membentuk generasi  unggul dan emas. Terlebih lagi diperkirakan sekitar 2020 – 2030 Indonesia dapat bonus demografi dengan komposisi usia produktif 70 persen. Pramuka harus kelola bonus tersebut agar berdampak positif.

BACA JUGA   Pengelola Perpusdes Diajari Pembuatan Blog dan MC

“Kita harus cegah agar tidak menjadi musibah demografi. Sekarang ada ancaman serius, yaitu pola kehidupan yang hedonis mendorong generasi muda akan berperilaku instan. Yang sekolah tidak mau belajar tapi nyontek, itu sudah latihan korupsi,” tutur Trisnanto.

Lebih memprihatinkan lagi, menurutnya ketika terjadi penyimpangan orientasi pola poikir generasi muda menjadi pragmatis. Terdapat paham dimana belajar/sekolah untuk nilai, bukan belajar untuk pintar . Bahkan hingga guru-gurunya turut membantu membocorkan soal.

“Mereka mendahulukan prestis dari pada prestasi. Gagah gagahan, sing penting gagah, sing penting wah. Padahal seharusnya prestis dibangun diatas prestasi,” katanya.

Oleh karena itu, pada saresehan ini Ia mengingatkan lagi tentang pola sistim among seperti yang diajarkan oleh Ki Hadjar Dewantara, yakni ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani.  Sambil menunjukan pola ilustrasi, Ia menyampaikan proporsi pelaksanaan masing-masing prinsip dalam Sistem Among berbeda di setiap golongan peserta didik.

BACA JUGA   57 Pejabat Fungsional Dilantik

Pembimbingan langsung sebagai implementasi dari prinsip ‘ing ngarsa sung tuladha’ paling banyak diberikan kepada anggota Pramuka Siaga dan semakin menurun proporsinya pada golongan anggota pramuka yang lebih tinggi. “Sebaliknya, pembimbingan secara tidak langsung, dalam bentuk motivasi, dorongan, dan pengaruh ke arah kemandirian (tut wuri handayani) pada anggota Pramuka Pandega cukup tinggi dan berkurang proporsinya pada tingkatan anggota di bawahnya,” katanya.

Sementara itu Plt Bupati Purbalingga yang juga sebagai Ketua Mabicab Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekda Tri Gunawan Setyadi SH MH menyampaikan selamat Hari Pramuka ke-57 bagi segenap jajaran dan keluarga besar gerakan pramuka di Kabupaten Purbalingga.

“Saya berpesan kepada seluruh jajaran pramuka utamanya anggota dewasa baik sebagai majelis pembimbing, andalan, pelatih, pembina, pamong saka maupun instruktur agar merapatkan barisan untuk bekerjasama secara sinergis guna mempercepat mewujudkan kaum muda Indonesia yang berkepribadian luhur, berkarakter, berwatak, handal dalam berfikir dan bertindak, memiliki jiwa bela negara, dan terampil dalam berbagai kecakapan sebagai bekal hidup kelak,” katanya.

BACA JUGA   Sampai Akhir 2017, Masih 430 Pasangan Nikah Di Purbalingga Belum Legal

Gerakan Pramuka yang sudah berusia 57 tahun, menurutnya tentu tidak sama suasana dan kondisinya ketika dilahirkan. Perlu rebranding pramuka baru yang diminati kaum muda. Pramuka hendaknya dapat mengikuti perkembangan zaman dan tidak terkesan kuno dalam era komunikasi digital dewasa ini. Pramuka harus dapat menangkap fenomena ini dalam era kebebasan berkomunikasi.

“Sebagian besar adik-adik kita merupakan generasi cyber yang online setiap saat yang selalu update statusnya dan mengungkapkan kondisi secara realtime dalam media sosial. Pramuka baru harus keren, gembira, asyik, dan menyenangkan. Tantangan bagi para pembina pramuka yang harus selalu kreatif dan berinovasi dalam membina peserta didik sehingga bangga menjadi pramuka,” ungkapnya. (Gn/Humas)