Home Kabupaten Purbalingga Sekolah Adiwiyata Kabupaten Siap Diusulkan ke Tingkat Provinsi

Sekolah Adiwiyata Kabupaten Siap Diusulkan ke Tingkat Provinsi

1418
0
Halaman salah satu sekolah yang ditetapkan sebagai salah satu sekolah adiwiyata kabupaten

PurbalinggaNews – Sekolah di Kabupaten Purbalingga yang telah memenuhi standar penilaian sekolah adiwiyata kabupaten akan mendapatkan pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purbalingga untuk diusulkan pada sekolah adiwiyata tingkat Provinsi. Standar penilaian yang harus dipenuhi sekolah adiwiyata untuk diusulkan ke tingkat provinsi nilainya harus mencapai 64.

“Sekolah-sekolah yang masuk standar sekolah adiwiyata kabupaten, kita (DLH, Red) berani usulkan ke provinsi. Jadi tidak harus yang juara 1,2, dan 3 sekolah adiwiyata kabupaten yang maju ke provinsi, yang sudah memnuhi penilaian akan kamu usulkan ke provinsi,” kata Kasi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup pada DLH Kabupaten Purbalingga, Mahmulatsih Widyastuti (Tuti) saat dihubungi, Kamis (4/10).

Ia menjelaskan untuk penilaian sekolah adiwiyata dilakukan dua tahap yakni tahap evaluasi administrasi dan verifikasi lapangan. Sedangkan untuk komponen yang dinilai ada empat komponen yang dinilai pada sekolah adiwiyata yang meliputi kebijakan berwawasan sekolah dimana sekola memiliki visi misi sekolah yang sudah berwawsan lingkungan, kemudia kurikulum berbasis lingkungan yang mana dalam kurikulum sudah ada edukasi tentang lingkungan di masing-masing mata pelajaran.

BACA JUGA   250 Anak PAUD Semarakkan Baksos dan Jalan Sehat

“Komponen ketiga yakni kegiatan lingkungan partisipatif yang melibatkan semua komponen sekolah untuk berpartisipasi dalam program adiwiyata,” jelasnya.

Komponen terakhir yang penilaian sekolah adiwiyata yakni sarana prasarana pendukung ramah lingkungan seperti tersedianya kantin sehat, biopori, dan sumur resapan. Selain itu sekolah adiwiyata juga harus memiliki green house atau bangun kontruksi dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal.

“Yang kita (DLH, Red) tetapkan sebagai sekolah adiwiyata seluruhnya sudah memiliki green house walaupun sederhana, kemudian untuk sarana prasarananya sendiri juga harus ada Tanaman Obat Kelurga (Toga),” ujarnya.

Yang paling utama, sekolah adiwiyata harus memiliki pengelolaan sampah sendiri. Pengelolaan sampah ini ternyata menjadi kelemahan di SD, sehingga dari empat SD yang dinilai oleh tim penilai adiwiyata hanya satu yang memenuhi kriteria yakni SD N 1 Limbasari.

BACA JUGA   Pemuda Diminta Terlibat Dalam Kegiatan TMMD Sengkuyung

“Pengelolaan sampah ini di Desa Limbasari sudah ada dan di sekolah-sekolah lain untuk tingkatan SD memang kelemahannya di situ, jadi kenapa dari empat sekolah kita hanya satu juara karena sekolah lain belum memnuhi standar adiwiyata kabupaten,” ungkap Tuti.

Ia menerangkan penetapan juara pada penilaian sekolah adiwiyata baik tingkatan SD, SMP maupun SMA kriteria penilaiannya sama. Hanya saja untuk nilai yang harus dicapai pada tingkat kabupaten 56, provinsi 64 sedangkan nasional 72 dan sekolah adiwiyata mandiri di atas 72.

Ia berharap setelah ditetapkannya kejuaran pada penilaian lomba sekolah adiwiyata, sekolah-sekolah yang telah dinilai bisa lebih peduli terhadap lingkungan dan berbudaya lingkungan. Selain itu, pengelolaan sampah yang sudah dilakukan secara mandiri bisa terus dilanjutkan jangan sampai setelah penilaian tidak berjalan lagi.

BACA JUGA   Purbalingga Rawan Berbagai Bencana Alam 

“Karena dengan mengelola sampah sendiri, ke depan lingkungan sekolah akan lebih bersih terutama mengurangi sampah yang ada kemudian ada penghijauan, keteduhan dan belajar jadi nyaman,” pungkasnya. (PI-7)