Home Kabupaten Purbalingga Tempat Ibadah Jangan Dijadikan Ajang Kampanye

Tempat Ibadah Jangan Dijadikan Ajang Kampanye

695
0
Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) GP Ansor pusat, KH Ulil Archam.

PurbalinggaNews – Memasuki tahun politik, berbagai lokasi dijadikan sebagai tempat kampanye. Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang menggunakan tempat ibadah sebagai lokasi kampanye yang dibungkus dengan kegiatan keagamaan. Sayangnya, tak jarang, dalam ceramah keagamaan di tempat ibadah itu menjadi ajang untuk menyerang pihak lawan politik dengan informasi yang belum pasti kebenarannya.

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) GP Ansor pusat, KH Ulil Archam  mengatakan, tempat ibadah seperti masjid bukan sarana kepentingan politik praktis. Hal itu karena masjid sebagai tempat beribadah untuk menyampaikan dam mengajak kebaikan, bukan digunakan sebagai tempat kampanye.

“Fungsikan sesuatu sebagaimana mestinya, termasuk tempat ibadah. Dan ceramah di masjid bukan media menyerang orang lain, apa lagi lawan politik,” kata pria asli Purbalingga ini melalui percakapan WhatsApp, Minggu (25/3).

BACA JUGA   Kwarcab Purbalingga Terima Dua Penghargaan Tingkat Kwarda Jateng

Diakui, orang akan lebih mudah berkumpul di masjid karena adanya dorongan masing-masing individu untuk beribadah. Momentum berkumpulnya itu dijadikan media berkampanye. Namun sayangnya, momentum itu pula yang dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk tujuan politik praktis, termasuk menyerang  pihak lain.

Tapi, lanjut Gus Ulil, kalau isi ceramah di masjid untuk mengajak umat berpatisipasi dalam pemilu atau pilkada tentu diperolehkan. Kewajiban masyarakat adalah mendukung program pemerintah. Pemilu atau pilkada merupakan perangkat negara karena dari situ akan terpilih wakil rakyat dan pemimpin. “Dimanapun termasuk di tempat ibadah tidak masalah digunakan untuk mengajak umat menyukseskan kegiatan tersebut. Yang terpenting tidak ada arahan pada personal,” katanya.

Koordinator Gusdurian Kabupaten Purbalingga, KH Basyir Fadlulloh mengatakan, saat tahun politik, tempat ibadah bisa menjadi lokasi masuknya kepentingan politik praktis. Hal ini karena, pemuka agama dinilai memiliki kemampuan memengaruhi jemaat untuk memilih salah satu calon pemimpin.

BACA JUGA   Besok, Mentan Launching Program 'Bekerja' di Sangkanayu

“Masjid merupakan tempat ibadah. Jangan sampai dikotori dengan kegiatan bermuatan politik praktis apa lagi yang dikemas dalam kegiatan agama. Jamaah juga harus bisa berfikir dengan kepala dingin terhadap ceramah yang disampaikan pemuka agama, apakah bermuatan politis atau tidak,” katanya pengasuh Ponpes Minhajut Tholabah, Kembangan, Bukateja, Purbalingga ini. (PI-1)