Home Kabupaten Purbalingga Tim OSN Astronomi SMAN 1 Purbalingga Amati Gerhana Matahari

Tim OSN Astronomi SMAN 1 Purbalingga Amati Gerhana Matahari

450
0

PurbalinggaNews -Tim Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Astronomi, Fisika dan Kebumian SMA Negeri 1 Purbalingga, sejak Selasa (8/3) malam hingga Rabu (9/3) pagi mengamati fenomena alam yang jarang sekali terjadi yakni oposisi planet Jupiter dan gerhana matahari total. Pengamatan dipusatkan dari lantai tiga bangunan sekolah setempat, menggunakan teleskop jenis SkyWatcher Startravel-150 OTA Refractor Telescope.

“Pengamatan ini untuk menunjang pemahaman kami secara teoritis tentang fenomena alam, yakni oposisi Jupiter dan gerhana matahari total yang memang sangat jarang terjadi,”   ujar Bagas Anindito, siswa Kelas XII MIPA 5 SMAN 1 Purbalingga yang mebimbing adik-adik kelasnya mengamati fenomena alam tersebut Rabu (9/3).

Tim OSN Astronomi, Fisika dan Kebumian SMAN 1 Purbalingga yang ikut mengamati fenomena alam unik itu, terdiri Annisa, Isna, Feby, Tia, dan  Novi. Mereka dari kelas X dan XI. Sedang bertindak sebagai pembimbing, Andi Murtanto dari bagian Kesiswaan, Mohammad Syaifudin, S.Pd selaku guru fisika, dan Drs. Kuat Risyanto, Kepala SMAN 1 Kutasari yang juga pernah membina OSN Astronomi di SMAN 1 Purbalingga.

Bagas Anindito menjelaskan, Selasa malam itu mulai jam 21.00 WIB pihaknya  berusaha  untuk mengamati  oposisi Jupiter , dan Rabu paginya dilanjutkan untuk mengamati gerhana matahari sebagian. Sebelum pengamatan mereka melakukan perakitan teleskop jenis SkyWatcher Startravel-150 OTA Refractor Telescope .

“Teleskop ini adalah teleskop sekolah yang memang dibeli untuk menunjang kegiatan astronomi di SMA N 1 Purbalingga. Proses perakitan tidak berlangsung lama karena kami sudah dilatih oleh kakak kelas yang dahulu juga menjadi tim OSN Astronomi,” ujarnya.

Setelah teleskop dirakit, lanjutnya, dilakukan pengamatan antara jam 22.00 – 02.30 WIB. Dan untuk mempermudah pengamatan , tim menggunakan aplikasi stellarium untuk menentukan koordinat bintang dan planet.  

Pengamatan pertama adalah oposisi jupiter. Oposisi Jupiter adalah keadaan di mana posisi Matahari-Bumi-Jupiter ada pada satu garis lurus, sehingga planet Jupiter terlihat lebih besar dari bumi, dan tingkat kecerahannya meningkat sehingga memungkinkan dilihat dengan mata telanjang.

“Namun pengamatan kami terkendala kabut dan awan mendung, sehingga kami tidak bisa mengamati peristiwa yang cukup langka itu. Justru yang kami dapatkan adalah Bintang Malam paling terang yaitu Sirius di langit barat pada jam 23.00 WIB , dan kemudian Planet Mars di langit timur pada jam 02.00 WIB. Cahaya Sirius yang memiliki magnitudo sekitar -1,4 (Semakin kecil semakin terang-red), cahayanya mampu menembus kabut malam kota Purbalingga ,” jelas Bagas Anindito.

Untuk planet Mars, lanjut Bagas Anindito,  dapat diamati ketika kabut di timur sudah mulai hilang , lalu cahaya kemerahan itu muncul di langit timur.

“Warnanya merah sangat indah dan sebenarnya dapat dilihat dengan mata telanjang, karena Mars bermagnitudo -0,4. Untuk dapat dilihat mata telanjang magnitudonya maksimal +6,” jelasnya.

Selanjutnya pada Rabu pagi mulai jam 05.30 WIB, Tim OSN SMAN 1 Purbalingga melanjutkan pengamatan gerhana matahari. Gerhana matahari adalah keadaan terhalangnya cahaya matahari oleh bulan. 

 

Terhalang Kabut

“Gerhana matahari ini diprediksi muncul di Purbalingga pukul 06.20 WIB, puncaknya pukul 07.23 WIB dan berakhir 08.35 WIB. Pada awal pengamatan kami sempat khawatir karena kabut semalam belum hilang dan bahkan setelah bulan sudah waktunya mulai menutupi matahari. Kami disini belum bisa melihatnya karena terhalang kabut. Namun tak lama setelah itu kabut hilang dan matahari dapat terlihat jelas sedang dicaplok oleh sang bulan. Kami lantas mengarahkan teleskop kami yang sudah dilengkapi dengan filter matahari,” timpal Kuat Risyanto.

Filter matahari itu, lanjutnya,  berguna untuk melindungi mata  dari pancaran sinar matahari yang begitu terang. Tim  juga sempat melihat gerhana matahari dengan kacamata gerhana, sumbangan dari Imam Santosa,  alumni OSN Astronomi SMA N 1 Purbalingga yang yang kini sedang melanjutkan studi S2 di Australia.

“Pengamatan berlangsung tersendat – sendat, karena kabut yang sempat hilang datang lagi dan kemudian hilang lagi. Namun pada akhirnya kami bisa melakukan pengamatan dari awal hingga akhir,” ujarnya.